PULPEN : kamu dan sepi

by frida sibarani

Kemarin aku ingat lagi (Safina)
Tentang kita yang tak mungkin (Nadnaf)
Walau semua tak harus dipungkiri (Stella)
Bahwa aku masih ingin hadirmu disini (Luthfi)
Kutapaki jejakmu ditelan sepi (Frida)
Saat aku bilang ‘ya’, dan kamu teriak ‘tidak’ (Kia)

Disini, kutapaki jejakmu yang perlahan menghilang ditelan sepi. Kunikmati bayangmu yang menghilang di telan kabut malam itu. Saat jejak punggungmu tak lagi terlihat, aku tahu kita tak lagi bisa bersama. Entah firasat apa yang aku rasa, hanya sebait doa yang bisa kuucapkan mengiringi kepergianmu. Tanpa tangisan atau sekedar ucapan selamat tinggal.

Terengah-engah aku bangun pagi itu, belum, belum pagi, langit masih terlalu gelap. Kuraih handphone ku, 04.25, kuletakkan kembali. Lalu, pikiranku kembali melayang kembali ke mimpi yang aku sendiri tak tahu apa maksudnya. Kamu, orang yang paling setia, yang selalu ada, pergi meninggalkanku begitu saja. Pikiranku kosong, tubuhku lemas. Mimpi gila macam apa itu. Lalu, entah apa yang aku pikirkan, kuraih lagi handphone ku, menuliskan pesan gila untukmu.

“Aku bermimpi kamu meninggalkanku sendiri..Haha..” . Send.

Pesan gila itu aku kirimkan tepat pukul 04.30. Berpikir bahwa kamu masih terjebak di alam mimpimu, aku putuskan untuk mencoba kembali tidur. Baru saja tubuh ini ku baringkan lagi, tiba-tiba LED biru itu menyala. LED biru, kamu. Ya, aku mengaturnya khusus untukmu. Aneh, tidak biasanya kamu bangun sesubuh ini.

“HAHAHA Dasar aneh..Jangan ngaco, tidur sana”

Mimpi yang membuatku kalut hanya kamu balas dengan leluconmu. Tapi, itulah yang membuatmu berbeda. Seburuk apapun kondisinya kamu selalu berhasil membuatnya menjadi sesuatu yang mudah. Entah sudah berapa banyak kekhawatiranku yang kamu hempas, air mata yang kamu hapus, dan ketakutan yang kamu enyahkan.

Kemudian, semua memori kita kembali berkecamuk di kepalaku, seperti potongan film yang diputar kembali. Pertamakali kita bertemu, tak ada kata yang terucap, hanya tatapan mata. Percakapan pertama kita. Lelucon- lelucon yang sebenarnya tidak lucu sama sekali tapi entah mengapa bisa membuat kita tertawa terbahak-bahak sampai menitikkan air mata. Film pertama kita, lengkap dengan degupan jantung yang tak terkontrol dan sentuhan- sentuhan kecil sikut kita. Cemoohan satu sama lain. Melihat kembali potongan- potongan kecil film kita entah mengapa sukses menghantarkan lagi tubuh ini keperaduan.

20130630_185852_1

Itu setahun yang lalu,

Kini semuanya berbeda, tidak ada lagi celetukkan yang kau lontarkan untuk menenangkan keresahanku. Tak ada lagi canda, tawa, dan tangis yang kita bagi bersama. Semua berubah dalam satu kedipan mata. Tadinya kamu adalah segalanya, kini kamu bukanlah siapa- siapa. Kini, siapa yang bisa dpersalahkan? Kamu? Aku? Keadaan? Mungkin tidak ada lagi yang bisa kita persalahkan. Ini adalah hasil konspirasi ketiganya.

Seandainya pesan itu tidak pernah aku kirimkan dan menemuimu menjadi satu- satunya pilihan. Sedandainya saat itu emosimu tidak sedang pada puncaknya, dan seandainya tuntutan tidak menekan kita dari dari berbagai arah. Mungkin semua ini tidak perlu terjadi, mungkin akhir ini tidak perlu ada. Tapi, semua kini hanya berpusat pada kemungkinan yang mustahil. Semua sudah terlambat, terlalu terlambat.

Pada akhirnya, semua cerita pasti akan menemui titiknya. Tak bisa selamanya bertemu dengan koma. Cepat atau lambat semua kisah akan bertemu akhirnya, seperti sungai yang mengalir lalu hilang dibatas samudra. Seperti embun yang menghilang kala mentari menampakkan dirinya. Seperti itu juga kisah kita, hilang diantara rimbunnya rasa sepi dan dinginnya ego. Dan kita harus berakhir dengan satu kalimat, “Maaf aku tak bisa menemuimu.”.

Semua sudah selesai, buku cerita kita sudah menemui titiknya. Kamu bisa melangkah pergi sekarang, dan menyisakan aku disini bersama sepi dan janji yang terkhianati.

Advertisements